April 12, 2012

Proses Pembuatan BBM (Bensin, Solar, Avtur, Minyak tanah)

Bahan Bakar Minyak adalah salah satu produk kimia yang paling sukses di dunia, produk ini mulai diperkenalkan setelah penemuan mesin Carnot (berbahan bakar Bensin) dan Mesin Diesel (awalnya berbahan bakar minyak dari kacang kemudian diganti dengan Automotive Diesel Oil atau lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan minyak solar). Dua mesin ini berguna untuk penggerak kendaraan pengganti kereta kuda dan kereta api uap.

Saat ini penggunaan BBM didominasi oleh penggunaan bensin untuk keperluan kendaraan pribadi berupa mobil dan motor. Minyak diesel juga banyak dipakai oleh PLN sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) khususnya untuk pembangkitan di luar pulau Jawa dan Bali. Keunggulan PLTD ini adalah dapat dimatikan dan dihidupkan secara cepat dan mudah, seperti halnya kita men-starter mobil/motor. Kenapa harus PLTD? Karena, masyarkat di luar jawa jauh lebih banyak menggunakan listrik di waktu malam saja untuk penerangan dan melihat TV. Ini jauh berbeda dengan masyarakat di Jawa, dimana pemakaian di waktu siang dan malam-malam tidak begitu berbeda, karena siang hari listrik dipakai untuk mesin pabrik dan AC perkantoran.

Berikut skema proses pembuatan BBM:

Proses diawali dengan pencarian minyak bumi, lalu kalau sudah ketemu minyaknya dan isinya cukup banyak, dilanjutkan dengan pemompaan. Tentunya prosesnya tak hanya dipompa saja, setelah itu masih perlu pemisahan dengan air dan kotoran lainnya. Untuk sumur-sumur yang sudah tua dan hasil minyak sudah menurun, perlu ditambahkan teknologi untuk mengambil sisa-sisa minyak yang masih terperangkap di batu-batuan. Teknologinya disebut Enhanched Oil Recovery bisa dengan penambahan uap panas, cairan surfaktan, gas Karbon Dioksida atau bahan kimia lain.

Kemudian minyak bumi diangkut ke pabrik pengolahan minyak bumi (kilang), disana minyak akan dipisahkan dengan penyulingan I (Distilasi), yang akan menghasilkan 3 produk yaitu Fraksi LPG I, Fraksi Sedang I, dan Fraksi Berat I.

Fraksi LPG dari penyulingan I sebagian masuk reaktor Isomerisasi menjadi Bensin, sebagian lagi masuk ke reaktor Reforming menjadi bensin dan kondensat.

Fraksi sedang I masuk reaktor hydroteating menjadi minyak tanah, avtur dan minyak diesel/solar.

Lalu Fraksi berat I masuk Alat Penyulingan/Distilasi II menghasilkan Fraksi LPG II, Fraksi Sedang II, dan Fraksi Berat II. Fraksi LPG II inilah yang banyak kita pakai untuk masak di dapur sekarang ini.

Fraksi sedang 2 sebagian masuk reaktor Hidrocracking kemudian menghasilkan minyak tanah, avtur dan minyak diesel/solar.

Fraksi Berat 2 kemudian masuk proses Coking yang menghasilkan dua produk yaitu aspal dan petroleum Coke (petcoke/kokas). Kokas ini juga bisa sebagai bahan bakar padat seperti batu bara.

Sekian cerita proses pembuatan BBM ini, begitu mudah ternyata.

April 20, 2011

Cara Pembuatan Sabun

Sabun adalah zat yang mampu melarutkan kotoran yang menempel pada suatu tempat seperti halnya tubuh kita, namun tak banyak yang tahu cara pembuatan sabun yang ternyata relatif mudah.

Kali ini akan saya paparkan secara singkat proses pembuatan sabun secara komersial yang biasanya dibuat oleh Pabrik Turunan Kelapa Sawit, sehingga selain sabun mereka juga memproduksi Minyak Goreng Kemasan dan Gliserol (Glycerol).

Sabun terdiri dari dari dua komponen utama, yang pertama adalah basa dan yang kedua adalah lemak. Selain itu hanyalah tambahan yang berupa aroma bahan tambahan lain yang bisa terasa lebih enak di badan (sabun mandi/sabun muka).

Sabun bisa dibuat dengan mereaksikan minyak tumbuhan (sawit, kelapa, kedelai dsb.) dan Basa (biasanya NaOH, kalau untuk sampo biasanya KOH). Tetapi sekarang ini kebanyakan sabun dibuat dari Asam Lemak Tumbuhan dan Basa.

Asam lemak tumbuhan adalah asam lemak yang dibuat dari proses refinery Minyak Tumbuhan, contohnya adalah minyak sawit (Crude Palm Oil/Minyak Sawit Mentah) direfinery dulu menjadi Stearin, Palmitin dan Olein. Fraksi Palmitin dan Olein dikemas menjadi minyak goreng dengan berbagai merek, karena fraksi palmitin dan Olein ini masih berwujud cair pada suhu 15 derajat celcius sehingga memberi kesan "jernih" pada minyak goreng.

Fraksi Stearin kemudian dihidrolisis menjadi Asam Stearat dan Glycerol. Produk Asam Stearat inilah yang biasa digunakan untuk membuat sabun dengan direaksikan dengan NaOH, dengan produk samping berupa air.

Untuk lebih jelasnya, bisa lihat gambar ini:



Oo iya, ada yang kelupaan pada gambar diatas, pada proses hidrolisis akan menghasilkan juga Glicerol, dan juga proses hidrolisis juga memerlukan Air (H2O) sebagai pemecah Asam Stearat dan Glicerol.

Pada proses penyabunan, reaksi antara Asam Stearat dan Basa Kuat (NaOH atau KOH) juga menghasilkan air. Pada intinya: mudah kan proses pembuatan sabun??? Tertarik bikin pabrik sabun???

Sabun beda dengan detergen dan cerita tentang proses pembuatan detergen akan diceritakan di seri selanjutnya.......

January 20, 2011

Proses Pembuatan Sepatu

Sudah lama ingin menulis tema ini, maklumlah penulis pernah bekerja di Perusahaan Sepatu Olahraga yang cukup terkenal. Proses Pembuatan sepatu memerlukan waktu yang cukup lama karena menggabungkan berbagai proses produksi yang rata-rata dilakukan dengan tenaga manusia (manual proses).

Secara garis besar, sepatu dibagi menjadi dua bagian, yaitu upper part dan bottom part. Upper part ini rata-rata digunakan proses pemotongan dan penjahitan (untuk bahan tekstil) atau proses penyamakan/coating dan penjahitan untuk bahan kulit, sedang untuk bottom part digunakan proses moulding (pencetakan) dan perekatan.

Sepatu yang paling sederhana adalah sepatu kulit (cibaduyut) karena hanya terdiri dari satu macam upper part (kulit) dan satu macam bottom part (sol karet).



Umumnya, pabrik sepatu kulit membeli kulit yang sudah disamak, begitu juga dengan bottom part-nya, mereka juga membeli lembaran karet yang sudah di vulkanizing (karet dan bahan-bahan pendukung direaksikan dengan sulfur/belerang dalam suhu sekitar 150 derajat).

Mudah kan buat sepatu??

October 19, 2009

Proses Pembuatan Plastik

Plastik awalnya dibuat dengan proses polimerisasi kimia dari bahan-bahan isomernya. Seperti Polipropylene (PP) adalah polimer dari Propylene, Polyethylene (PE) adalah hasil polimerisasi dari Ethylene. Kalau pernah SMA kelas 1 pasti pernah dengar nama-nama ini di pelajaran Kimia bagian senyawa hidrokarbon. PP dan PE adalah polimer yang paling banyak diproduksi untuk keperluan sehari-hari disamping polimer lain seperti Polyamide (PA), Polyvinylchlrida (PVC), Polyurethane (PU), Ethylenevinylacetae (EVA), karet sintetik, Bakelite, Neoprene, Nylon (untuk industri plastik dan serat/benang), Polystyrene (PS), Polyacrylonitrile, PVB, Silicone, dan masih bnyak lainnya.

Plastik adalah jenis polimer yang paling banyak kita jumpai dalam keseharian kita. Mulai dari casing HP, komputer, monitor, ballpoint, sampai tas plastik untuk membawa makanan.


Barang-barang terbuat dari plastik di meja kerja



Polimer yang saya sebutkan pada paragraf pertama diatas rata-rata adalah polimer termoplastik kecuali EVA yang lebih banyak untuk aplikasi Foam atau busa, contoh sederhananya adalah untuk sandal jepit. PU juga banyak untik aplikasi busa seperti pada isi jok mobil.

Tak kalah penting adalah polimer jenis Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS) yang banyak dipakai pada moulding parts component seperti komponen otomotif, bemper mobil, pipa, penutup gear, casing LCD/DVD/VCD.

Polimer-polimer tersebut yang saya sebutkan diatas adalah polimer sintetis (bukan natural polimer seperti karet alam untuk ban mobil. Polimer sintetis dibuat dari bahan baku minyak bumi sehingga masuk dalam tataran bisnis petrokimia. Bisnis ini menjadi penyokong industri komponen otomotif, elektronik, dan industri komponen2 lainnya.


Bisnis petrokimia merupakan bisnis hightech dimana pabriknya hanya bisa dioperasikan oleh process engineer handal, namun keluaran/output dari bisnis ini adalah bahan yang diserap oleh industri kecil yang notabene lowtech, kurang qualified dan kecil keuntungannya.

Untuk proses pembuatan detail masing-masing polimer, silahkan tunggu postingan selanjutnya.

October 4, 2009

Proses Pembuatan Hidrogen (Hydrogen)

Hydrogen dan Fuel Cell

Kali ini saya ceritakan proses pembuatan gas Hidrogen, dimana sebenarnya gas ini sudah terdapat di alam semenjak dulu kala dan melimpah ruah. Akan tetapi gas hidrogen terikat dengan unsur-unsur lain terutama berikatan dengan Oksigen membentuk Air (H2O) dan Carbon membentuk Hidrokarbon.

Alasan saya menceritakan proses pembuatan gas hidrogen yang satu ini karena merupakan sumber energi ramah lingkungan yang mempunyai beberapa keuntungan antara lain:



  • Bersih : karena hasil dari proses pemanfaatan energinya adalah air.

  • Melimpah: Karena banyak terdapat di air dan hidrokarbon

  • Transportable dan storable : hidrogen dapat dialirkan ke rumah-rumah dan ke stasiun pengisian dengan cepat. Berbeda dengan batubara yang berat atau energi listrik memerlukan batere yang banyak dan besar untuk penyimpanan.

  • Mesin yang dihasilkan lebih smooth karena digerakkan dinamo listrik arus searah


Sumber-sumber Potensial Hidrogen



Source: H2 Patent GmbH



Sumber-sumber potensial gas hidrogen yang ramah lingkungan bisa berasal dari:



  1. Proses elektrolisis air. Proses ini adalah dengan memecah senyawa air yang terdiri dari 2 atom Hidrogen dan satu atom O dengan tenaga listrik. Jika menginginkan tetap menjadi energi bersih, sumber untuk energi listrik yang cukup potensial adalah tenaga matahari, angin dan panas bumi.

    Elektrolisis air memerlukan energi listrik DC (Direct Current) arus searah yang bisa diproduksi dari berbagai macam sumber terbarukan seperti saya sebutkan diatas.


  2. Biomassa. Untuk proses pembuatan gas hidrogen dari sumber hidrokarbon, yang paling potensial dan disarankan adalah dari hidrokarbon terbarukan seperti biomasa. Di Indonesia, sumber biomasa yang patut diperhitungkan adalah limbah-limbah industri seperti tandan kosong kelapa sawit, bagasse (ampas tebu), sekam dan jerami padi dan juga dapat dibuat dari rumput gajah yang sengaja ditanam untuk sumber energi. Mengingat rumput jenis ini sangat cepat pertumbuhannya.

    Silahkan lihat skema dibawah untuk mendalami proses pembuatannya. Secara keseluruhan, proses dibawah dinamakan proses steam reforming dimana :


    Biomass + H2O --------> H2 + CO2



    Pertama Biomasa digasifikasi untuk menghasilkan gas CO, kemudian gas CO ini direaksikan dengan steam (uap air) pada suhu 350 derajat Celcius untuk menghasilkan gas hidrogen dan CO2. Proses selanjutnya adalah pemurnian dilanjutkan dengan pemisahan gas-gas tersebut. (Mudah kan???)


Pemanfaatan Hidrogen: Mengapa via Fuel Cell ?

Hidrogen dimanfaatkan energinya via Fuel Cell walaupun sebenarnya hidrogen bisa masuk ke ruang bakar mesin untuk menggerakkan torak seperti mesin konvensional. Namun jika digunakan seperti itu, efisiensi-nya akan sangat kecil sekali.

Menurut studi, untuk menghasilkan energi listrik dari combustion hidrogen, lalu untuk memutar turbin sampai menghasiilkan listrik hanya akan menghasilkan efisiensi 20%. Sedangkan teknologi Fuel Cell yang dengan elektrokimia langsung akan menghasilkan listrik searah dengan efisiensi pada kisaran 60%. Kemudian, untuk memanfaatkan listrik searah dari hasil reaksi Fuel Cell, sampai saat ini sudah banyak inverter (pengubah DC menjadi AC) yang memiliki efisiensi diatas 98%. Listrik AC (arus bolak-balik) ini yang untuk pompa air di rumah kita.

Pemanfaatan hidrogen sebagai penggerak kendaraan adalah dengan memanfaatkan listrik arus searah yang dihasilkan untuk menyuplai tenaga ke Dinamo mesin (mesin akan sangat terasa lebih halus dibandingakan jika digerakkan piston hasil kerja motor bakar).





Sekian cerita menarik proses pembuatan hidrogen, semoga dimasa depan Indonesia berhasil mempuyai lini produksi hidrogen yang berasal dari sumber bahan baku kita sendiri, dengan teknologi kita sendiri dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Mudah kan proses pembuatannya??


September 6, 2009

Pembuatan Wafer

Wafer yang akan kita bicarakan saat ini bukan wafer makanan untuk sajian Lebaran. Tapi ini wafer silikon yang berfungsi sebagai bahan untuk semikonduktor dan sel surya.

Silikon adalah elemen kedua yang paling berlimpah dalam kerak bumi (27%), tapi itu tidak terdapat di bumi sebagai unsur murninya karena SiO2 tersimpan dalam bentuk pasir kuarsa, kuarsit, dan senyawa lain yang lebih stabil. Banyak langkah-langkah pengolahan (di bawah) tersebut dilakukan untuk membawa Si dari bijih asli, kuarsit, ke substrat kristal yang kita gunakan untuk fabrikasi komponen sel surya atau sirkuit terintegrasi (IC).

Mari kita simak proses pembuatannya!



Source: Siliconsultant website


Bahan awal Silicon untuk aplikasi PV dan IC harus mengandung kemurnian 99% atau metalurgi-grade (MG). Ini diperoleh melalui pengurangan Coke (karbon) dalam sebuah tungku bunga api. Reaksi keseluruhan dapat dianggap sebagai:

SiO2 + C ->CO2 + Si

Proses selanjutnya adalah proses pemurnian dengan melarutkan Silicon Metalurgical Grade kedalam larutan Asam (HCl) sehingga terbentuk larutan Chlorosilanes. Dan kemudian dilakukan proses distilasi (pemisahan cairan yang berbeda titik didihnya) sehingga didapatkan cairan Trichlorosilane (SiHCL3).

Cairan SiHCl3 kemudian menuju proses reduksi menggunakan gas Hidrogen sehingga terciptalah Polycrystalline Silicon atau yang banyak dikenal sebgai Polysilicon. Karena sudah dalam bentuk padatan, zat ini lebih stabil untuk dilakukan transportasi (ekspor). Indonesia berpotensi untuk mengekspor zat ini daripada hanya mengeskpor pasir silika saja.

Polysilicon kemudian dipanaskan (dilelehkan) sampai suhu 1500 C dan menggunakan teknologi khusus (dalam hal ini teknologi dari Siemen Jerman yang banyak digunakan) akan menghasilkan kristal silicon dalam bentuk padatan rigid. Kemudian batangan kristal silicon inilah yang kemudian dipotong tipis-tipis dengan gergaji berbahan Diamond sehingga terbentuk lempengan wafer atau slice.

Nah, mudah kan prosesnya.....

Proses terkait: Pembuatan Sel Surya

September 4, 2009

Pembuatan Sel Surya (Solar Cell)

Setelah membicarakan proses pembuatan dari bahan baku tumbuhan Indonesia yaitu Biodiesel yang dibuat dari minyak tumbuhan, maka cerita proses pembuatan akan saya lanjutkan dengan proses pembuatan dengan bahan baku mineral.

Indonesia cukup mempunyai kapasitas untuk mengembangkan salah satu Sumber Daya Alamnya yaitu pasir silika. Selama ini, pasir silika masih terbatas pemanfaatannya untuk produk bernilai ekonomi sedang dan rendah seperti keramik lantai/dinding, Float Glass (Kaca lembaran; untuk jendela dan mobil), Container Glass (botol minuman, gelas minuman dll).

Sedangkan pasir silika ini bisa dikonversi menjadi produk bernilai tinggi yaitu Polysilicon yang bisa digunaan untuk semikonduktor mikroelektronik dan sel surya monocrystalline/polycrystalline.

Sampai saat ini, jenis sel surya ada dua macam yaitu crystalline dan thin film/film tipis dimana efisiensi dari crystalline masih lebih tinggi dibandingkan thin film. Berikut saya ceritakan proses pembuatannya.


Pembuatan Sel Surya Multicrystalline

Bahan baku utama (substrate) adalah wafer polysilicon. Wafer inilah yang dibuat dari pasir silika. Silahkan simak proses pembuatan wafer di Proses pembuatan wafer pada postingan yang lain.Penjelasan proses diatas:

  1. Etch: Proses penghalusan wafer akibat proses pemotongan

  2. P-diffusion: Pembetukan p-n junction dengan difusi Posfor

  3. PSG-Etch: Proses penghalusan lapisan gelas posfor

  4. AR-Coating: Anti Refelctive Coating, ini dimaksudkan agar sinar matahari dapat terserap sepenuhnya

  5. Contacts: Untuk metalisasi/memperkuat struktur permukaan atas dan bawah

  6. Edge Insulation: Pemotongan kedua sisi sel


Pembuatan sel surya thin films

Thin film solar cell ada 3 jenis yaitu:

  • CIGS (eff max 18.4 %), Copper indium gallium diselenide (CIGS) alloy cells: dapat dideposisikan pada kaca maupun stainless steel.

  • CdTe (16.5 %), Cadmium telluride: lebih murah daripada silikon

  • a-Si (9.5 %), Amorphous silicon: efisiensi rendah, dapat dideposisikan ke berbagai macam substrate seperti stainless steel dan kaca, kurang stabil

Saah satu contoh pembuatannya:Ini adalah proses pembuatan sel surya jenis film tipis dengan bahan CdTe (Cadmium Telluride) yang dideposisikan pada kaca sebagai substrate.

Indonesia berpeluang mengembangkan teknologi sel surya thin film karena disini sudah ada beberapa pabrik Float Glass seperti PT Muliaglass dn PT Asahimas Flat Glass Tbk. Sedangkan untuk memproduksi Multicrystalline Solar Cells, kita terkendala masalah import wafer.

Bagaimana? Anda tertarik untuk mendirikan pabrik sel surya??

Proses terkait: Pembuatan Wafer